Artikel

Tentang Penyaliban

Penyaliban: metode penting hukuman mati, khususnya di kalangan bangsa Persia, Seleukia, Yahudi, Kartago, dan Roma dari sekitar abad ke-6 SM sampai abad ke-4 Masehi. Konstantinus Agung, kaisar Kristen pertama, menghapuskan hukuman tersebut dari Kekaisaran Romawi pada tahun 337, untuk menghormati Yesus Kristus, korban penyaliban yang paling terkenal.

Kengerian Salib

Cicero

Orang-orang kuno berbicara tentang penyaliban dengan penuh kengerian. Sejarah yang ditulis oleh Cicero mengungkapkan perasaan jijik orang terhadap kematian di atas salib. Hukuman tersebut merupakan "hukuman paling puncak dan paling ekstrim terhadap budak" (Servitutis ekstrem summumque supplicium, dari buku Against Verres 2.5.169), "hukuman yang paling kejam dan yang paling menjijikkan" (crudelissimum taeterrimumque supplicium, ibid. 2.5. 165.).

The Passions of Gethsemane

Pergumulan batin yang maha dahsyat yang dialami oleh Sang Juru Selamat dunia di Taman Getsemani, dikisahkan oleh ketiga penulis Injil Sinoptik dalam tulisan-tulisan mereka (Mat. 26:36-46; Mrk. 14:32-42; Luk. 22:39-46). Keseraman bayang-bayang maut yang begitu mengerikan membuat-Nya nyaris tak kuat menanggungnya sehingga Allah Bapa harus mengutus seorang malaikat untuk memberikan kekuatan kepada-Nya (Luk. 22:43). Mengapa Yesus harus memasuki pengalaman yang begitu dahsyat?

Kemuliaan Kristus sebagai Pengantara: Ketaatan-Nya

Ada kemuliaan yang tak nampak dalam semua hal yang telah dilakukan serta dialami Kristus di dunia ini. Kalau saja orang dapat melihat kemuliaan tersebut, mereka tentu tidak akan menyalibkan-Nya. Namun, kemuliaan itu telah dinyatakan pada sejumlah orang, yakni para murid: "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa." (Yohanes 1:14)

Tradisi Paskah

Pada Bulan April, kita umat Kristiani akan memperingati hari "Jumat Agung", dimana kita memperingati sengsara Tuhan Yesus untuk penebusan seluruh Dosa umat manusia di dunia.

Sungguh ajaib Tuhan kita, bahwasannya dalam 3 hari Dia bangkit dari antara orang mati. Itulah yang kita sebut dengan hari PASKAH. Mungkin di negeri kita ini, paskah selalu diidentikkan dengan acara menghias telur dan mencari telur saja tanpa mengetahui apa maksud dibalik simbol tersebut. Tiap-tiap negara di dunia ini memiliki beberapa acara tradisi dalam menyambut hari Paskah tersebut. Ada beberapa simbol yang sudah dikenal di dunia ini selain telur Paskah seperti:

Minggu-Minggu Pra-Paskah

Kenapa gereja kita mengadakan minggu-minggu persiapan sebelum memasuki hari raya Paskah?

Minggu-minggu persiapan itu sesungguhnya bertujuan untuk mengajak jemaat mempersiapkan hati dan diri sebelum memasuki masa raya Paskah. Beberapa gereja menyebutnya sebagai Minggu Sengsara, walaupun lebih tepat jika yang disebut Minggu Sengsara itu adalah minggu terakhir dari minggu-minggu pra-Paskah itu sendiri. Tidak disebut Minggu-minggu Sengsara karena-masa-masa persiapan/pra-Paskah tersebut tidak selalu diisi dengan dukacita dan pergumulan berat sebab di minggu-minggu pra-Paskah adalah waktu dan kesempatan bagi umat untuk lebih menghayat peristiwa salib Kristus. Masa pra-Paskah adalah kesempatan spiritual umat dan lembaga gereja untuk lebih mengenal kasih Allah di dalam Kristus melalui pertobatan yang sungguh. Pertobatan dari dosa selalu diikuti dengan anugerah pengampunan Allah.

Allah Mengaruniakan Anak-Nya

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16).

"Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu" (II Korintus 9:15).

Alangkah besarnya kasih ALLAH akan dunia ini. Berapa besarkah kasih- Nya? Sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal bagi setiap orang di dunia ini yang mau percaya kepada-Nya. Bagaimanakah caranya Allah memberi? Ia memberikan Anak-Nya sendiri agar dilahirkan sebagai manusia supaya Ia selamanya dapat bersatu dengan kita. Ia memberikan Anak-Nya agar mati di kayu salib untuk menanggung dosa dan kutuk yang seharusnya kita tanggung. Ia memberikan Anak-Nya dengan jalan menyerahkan takhta sorga kepada-Nya agar Ia dapat mengaturnya demi kesejahteraan kita, yaitu sebagai Pengantara dan Juru Syafaat yang kuasa-Nya melebihi semua kuasa di sorga. Ia memberikan Anak-Nya di dalam pencurahan Roh Kudus agar dapat tinggal di dalam kita, agar sepenuhnya menjadi milik kita. 1) Ya, itulah kasih Allah--sehingga Ia memberikan Anak-Nya kepada kita, bagi kita, dan diam di dalam kita.

Kristus Bangkit, Dialah Tuhan Saya!

"Mengapa kamu mencari Dia yang hidup diantara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit." (Lukas 24:5)

Ada banyak orang, bahkan orang Kristen, yang mempertentangkan kebenaran kisah PASKAH. Ada yang berpendapat bahwa yang disalib bukan Tuhan Yesus, tapi seseorang yang berwajah mirip Yesus, ada pula yang mengatakan bahwa Yudas Iskariotlah yang disalib, ada pula yang mengatakan bahwa mayat Yesus disembunyikan, ada pula yang berpendapat bahwa Tuhan Yesus hanya mati suri, dan banyak pendapat-pendapat lain. Apakah Tuhan Yesus benar-benar disalibkan, mati, dan tiga hari kemudian bangkit dari kematian?

Bagaimana keyakinan anda sebagai guru-guru Sekolah Minggu yang akan memberitakan kebenaran Firman Tuhan kepada anak-anak yang anda didik? Untuk menguatkan iman dan memperluas pengetahuan guru-guru Sekolah Minggu, ikutilah sajian perenungan ini:

Kelinci dan Telur Paskah


Kelinci Paskah adalah makhluk fiktif yang digambarkan sebagai seekor kelinci antropomorfis (yang memiliki karakter-karakter manusia). Menurut legenda, kelinci paskah membawa keranjang yang penuh berisi telur, permen, dan mainan yang bewarna-warni ke rumah anak-anak pada malam Paskah. Kelinci Paskah itu akan entah menaruh keranjang tersebut di suatu tempat atau menyembunyikannya di dalam rumah anak itu agar supaya sang anak keesokan paginya mencarinya. Kelinci Paskah memiliki kemiripan-kemiripan dengan Sinterklas yang membawa hadiah untuk anak-anak yang tidak nakal pada malam sebelum hari Paskah/Natal. Sumber legenda tersebut bervariasi, namun kelinci tersebut sudah dikenal sejak 1600; beberapa sumber menyebutkan legenda tersebut berasal dari mitos kesuburan, sementara yang lain menghubungkannya dengan peranan kelinci di dalam ikonografi Kristen.

Halaman